Layar Bisu Tak Bernyawa

Minggu, 14 Oktober 2018
Suatu hari di sudut ruangan berbariskan layar bisu tak bernyawa, disitu tempat Cinta menghabiskan waktu dengan berbagai rasa. Rasa-rasa yang tak menentu berubah seenaknya, bermetamorfosis secepat yang tak pernah bisaCinta perhitungkan, ia begitu cepat "mana mungkin kumampu memperkirakan waktunya" tutur Cinta.

Bersama layar bisu tak bernyawa, Cinta setia bersamanya dengan segala kebisuannya. "Ia setia menemaniku kami benar-benar seolah-olah sepakat untuk saling setia menemani, meskipun adakalanya aku menghianatinya, sesekali aku menghilang mencari udara segar, menemui sosok bernyawa yang bisa ku ajak bicara secara langsung menceritakan dan menanyakan semua yang inginku tanyakan". 

Suatu hari di sudut ruangan berbariskan layar bisu tak bernyawa, Cinta hanya sendiri di ruangan besar yang rasanya ia benar-benar senidiri meskipun tak seutuhnya karena ia yakin "Rabbku selalu bersamaku, Allah ia tak pernah meninggalkankanku tapi akulah yang sering meninggalkannya, cuek dan sebagainya.. Hari itu benar-benar sepi rasanya dan akupun tak bersemangat untuk keluar mencari udara segar. Aku hanya ingin bersamanya, cahaya terang dari layar bisu tak bernyawa membuatku bersemangat tuk menyelesaikan semua tugasku meskipun sepi terasa begitu mendekap, apa boleh buat aku yang hanya berteman layar bisu tak bernyawa tak bisa mengusirnya tuk pergi menjauh". 

Bersama layar bisu tak bernyawa Cinta terbiasa menghabiskan waktu bersamanya," aku terbiasa untuk berkomunikasi dengan yang bernyawa melaluinya. Sesekali tersenyum simpul sendiri bersamanya. cukup membahagiakan untuk sosok seseorang yang berteman dengannya seperti aku ini".

"Entah mengapa meskipun hanya bersamanya terkadang aku merasa nyaman,, meskipun sejujurnya terkadang aku rindu ingin menghabiskan waktu tak hanya di sudut ruangan berbariskan layar bisu tak bernyawa, sungguh rasanya rindu lapangan. Panas-panasan mengawasi pekerjaan para pekerja dengan helm putih kebanggaan kala itu, berbincang ria bersama mereka menata masa depan, merancang rumah impian, merencanakan pembangunan kehidupan ke depan, memperhitungkan semua kemungkinan yang akan dilakukan. Menikmati betapa bahagianya tiba di ruangan dingin dengan segudang pr yang harus dilanjutkan untuk diselesaikan di meja ramai berbaris dan berjejer kertas-kertas dan dengan layar tak bernyawa bertempelkan stiker dteline.. sungguh rindu masa itu, sibuk dengan hiruk pikuk ilmu yang harus disalurkan, meskipun lelahnya berkali-kali lipat".

Namun apa daya tangan tak sampai, banyak hal yang dipertimbangkan untuk saat ini, sekarang bertemankan Layar bisu tak bernyawa adalah hari-hari Cinta, "bukan tak bahagia aku bersamanya hanya saja rasanya sepi bila hanya berdua bersamnya yang tak mampu mengerti aku, "haha" mana mungkin layar mampu mengerti akan sebuah perasaan dan aku bahagia sekali bila di sudut ruangan ini rami, meskipun sulit tuk rami setidaknya aku punya teman yang bernyawa yang bisa menjawab pertanyaanku secara langsung "haha"  aku akan bahagia".

Sekarang, "aku tak hanya Bersama layar bisu tak bernyawa sekarang setidaknya ada beberapa yang menemaniku di sudut ruang ini bersamanya. selalu ada mereka yang menamani, karena apa kalian tahu sendiri itu berat meski tak seberat batu besar di kali :)" begitulah celoteh Cinta. 

"Bersyukur adalah kemampuanku saat ini, menikmati semua yang ada di hadapanku, dengan terus berjuang untuk menjadi terus lebih baik dan berdamai bersamanya." 


Layar Bisu Tak Bernyawa





Posting Komentar

Auto Post Signature

Auto Post  Signature